» » » MEMBEDAH KONDISI PD PASAR MANADO. LILLY WALANDHA VS PINGKAN NUAH. SIAPA YANG BENAR?

MEMBEDAH KONDISI PD PASAR MANADO. LILLY WALANDHA VS PINGKAN NUAH. SIAPA YANG BENAR?

Penulis By on Senin, Juli 17, 2017 |

LILLY WALANDHA                                                                                                PNGKAN NUAH

METRO MANADO-Jika kita ingat gelaran Rapat Paripurna beberapa waktu lalu dimana Walikota Manado DR Ir GS Vicky Lumnetut M.Si, DEA pernanh mengeluarkan pernyataan lewat sambutannya, dimana kondisi pasar tradisional di Manado telah mengalami kemajuan, baik dari sector pendapatan maupun penataan. Pernyataan Walikota tersebut, ternyata belum sepenuhnya diakui Anggota DPRD Manado khususnya Pingkan Nuah selaku Wakil Ketua Komisi B. Menurutnya PD Pasar dinilai belum maksimal dalam melakukan pengelolaan pasar, mulai dari sampah, kemudian kenaikan sewa lapak dan penarikan retribusi pedagang serta kondisi bangunannya. Dihadapan Wartawan, Politisi PDI-Perjuangan itu. Dia kemudian mencontohkan, bahwa, jika pasar telah mengalami kemajuan serta peningkatan kesejahteraan, tidak mungkin para pedagang melakukan Demo beberapa waktu lalu.”Pasar justru lebih memperparah kesejahteraan pedagang. Itu karena sewa lapak dan ruangan mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Jadi jika ada yang mengatakan pasar telah mengalami perubahan itu tidak benar,”kata Nuah beberapa waktu lalu. Diapun kemudian menagih janji Ketua DPRD Manado Noortje Van Bone terkait surat dari Pimpinan Dewan untuk rapat DPRD, PD Pasar Pemerintah Kota dan para pedagang. Dia mengatakan surat dari Ketua Dewan tidak pernah ada.”Jadi walaupun kami Komisi B selaku mitra kerja berkoar-koar maka kami tidak dapat membela pedagang, lantaran surat dari Ketua Dewan tidak pernah dikeluarkan. Kami butuh persetujuan Pimpinan Dewan biar semua menjadi terang menderang,”tegas Nuah. Hal itu kemudian membuat ketersinggungan Sekretaris Komisi B DPRD Manado Lilly Walanda, MBA yang terusik dengan pernyataan Pingkan Nuah yang dianggap terlalu memojokan Pimpinan Dewan yang notabene adalah Ketua DPC-Partai Demokrat Manado serta Direksi PD Pasar. Dengan posisi saling berhadapan di ruangan Komisi B, Walanda yang juga Politisi Demokrat ini, menyebut pernyataan Pingkan Nuah terlalu tendensius dan tidak membangun.”Jika Ibu Pingkan mengatakan kondisi PD Pasar tidak mengalami kemajuan, maka hal itu adalah pernyataan dirinya pribadi, bukan mewakili Komisi B selaku  mitra kerja Komisi B. Mengenai demo yang dilakukan para pedagang pasar, itu adalah bagian dari dinamika yang terjadi di PD Pasar, dan kami juga mendapati adanya pro dan kontra dalam demo tersebut. Itu terbukti, setelah demo selesai ada begitu banyak pedagang pasar yang kemudian berfota bersama Dirut PD Pasar Ferry Keintjem dan jajarannya. Kita tidak boleh hanya menilai sepihak saja. Jangan yang jelek-jelek saja yang kita nilai. Harus obyektif dong kalau melakukan koreksi,”tegas Politisi pentolan Daerah Pemilihan (Dapil) Wanea-Wenang Manado ini. Kemudian mengenai surat dari Ketua Dewan, persoalan PD Pasar kan sementara dalam penyelesaian lewat lewat Komisi B.Kemudian pihak Direksi PD Pasar sudah menjelaskan mengenai kondisi pasar serta para pedagang yang ada di sejumlah pasar di Manado. Itu sebabnya Komisi B selaku mitra kerja telah menerima aspirasi mereka bertempat di Ruang Paripurna beberapa waktu lalu. Itu berarti Ketua Dewan tidak lagi perlu disebut dalam kaitan PD Pasar, dan dari informasih yang disampaikan Direksi PD Pasar, bahwa 95 persen pedagang pasar sudah melakukan pembayaran sewa lapak serta ruangan yang mereka gunakan. Itu artinya para pedagang tidak lagi mempersoalkan soal sewa menyewa serta retribusi yang merupakan kewajiban mereka sebagai pedagang.”Apa lagi yang mau diributkan. Persoalan PD Pasar akan kita kawal bersama seluruh personil Komisi B termasuk Ibu Wakil Ketua Pingkan Nua. Hanya saja persoalan untuk membenahi berbagai persoalan di PD Pasar tidak hanya sekedar membalikan telapak tangan. Sebagai mitra kerja kita seharusnya membantu PD Pasar dalam kaitan mendorong peningkatan pendapatan serta membuat masyarakat nyaman saat berbelanja.
Tak dapat dipungkiri, bahwa kenyamanan para pengunjung pasar perlu diperhatikan. Pasar harus bersih dan nyaman, baik dari segi keamanan maupun segi kenyamanan,”ujar Walandha.
Diapun kemudian berharap agar DPRD khususnya Komisi B mendukung Peraturan Direksi (Perdis) tahun 2011dalam upaya melakukan pembenahan di PD Pasar.”karena sebagaimana diatur dalam Perdis, seharusnya pedagang membayar Rp58.000, tetapi pada kenyataannya mereka hanya membayar Rp 22.000 beberapa waktu lalu. Nah sekarang para pedagang sudah mulai membayar sesuai Perdis, tetapi hal ini perlu ditelusuri. Saya tidak sedang memojokan Ibu Pingkan, tetapi ini adalah fakta dan perlu kita selesaikan bersama. Kita sudah memiliki data PD Pasar dan didalam data tersebut, kita bisa melihat apakah sebelumnya PD Pasar mengalami keuntungan autau justru sebaliknya rugi beberapa waktu lalu,”tandas Walandha.(jose)

Baca Juga Bertia Metro Terkait Lainnya