» » INI CERITA SALAHSATU PENUMPANG KM ZAHRO EXPRESS

INI CERITA SALAHSATU PENUMPANG KM ZAHRO EXPRESS

Penulis By on Rabu, Januari 04, 2017 |

METRO JAKARTA-Kapal Motor (KM) Zahro Express disebut pernah hampir tenggelam pada Februari 2016 lalu. Salah seorang penumpang Vera Indriyani (25) menyebut saat itu kapal kelebihan muatan dan kekurangan pelampung. Seperti apa kisahnya?
Sebagaimana dilansir detik.com, Vera menceritakan pengalamannya itu lewat akun Facebook-nya. Dia menuturkan kembali kisahnya tersebut saat dihubungi detikcom lewat telepon, Rabu (4/1/2017) siang.

Dikisahkan Vera, kejadian tersebut terjadi pada Senin, 8 Februari 2016. Dia saat itu sedang berwisata bersama suami dan seorang anaknya serta rekan-rekan kantor suaminya di Pulau Tidung dan hendak kembali dengan menumpang KM Zahro Express sekitar pukul jam 10.00 WIB.

"Rombongan kami ada 25 orang saat itu," kata Vera. Menurut dia selain rombongan mereka, ada banyak rombongan lain yang menumpang KM Zahro Express. Dia tidak ingat berapa jumlah pastinya, namun memperkirakan sekitar 150-200 orang.

Saat itu menurut Zahra, kapal tidak langsung berangkat. Seorang teknisi menyebut ada sedikit masalah dan mesin sedang dipanaskan. Ada sekitar 1 jam mereka menunggu sebelum akhirnya kapal jalan.
"Awal berangkat arah pulang perjalanan biasa saja sampai setelah kurang lebih 45 menit di tengah laut mesin tiba-tiba mati. Saya tahu persis karena saya duduk di bangku putih di belakang yang ada ban pelampung. Ada mekanik masuk ke tempat mesin di hadapan saya, makanya saya tahu sedang ada masalah di mesin," ujarnya.
Karena mekanik kapal sedang memperbaiki mesin di depan bangkunya dan suaranya berisik, Vera pun berinisiatif pindah ke dekat jendela bersama suami dan anaknya. Namun tiba-tiba menurutnya dari arah depan terdengar suara gemuruh dan keriuhan para penumpang lain seperti sedang membicarakan sesuatu. Kapal kemudian bergoyang kencang sekali, yang diibaratkan Vera seperti sedang naik kora-kora. Angin saat itu menurutnya kencang sekali sehingga ombak tinggi dan membuat kapal terombang-ambing.
"Lalu saya lihat orang-orang mulai mengambil pelampung yang disediakan, bahkan sampai pada rebutan karena jumlahnya kurang. Suasana makin panik, ada yang teriak, anak-anak nangis, suara takbir dan istighfar terdengar di mana-mana. Anginnya besar, ombak besar dan orang-orang enggak mau diam, jadinya air makin masuk ke dalam kapal," ucap Vera.
Vera saat itu pun mengaku sangat panik. Dia, suami dan anaknya menangis karena khawatir bagaimana jika kapal itu tenggelam dan mereka semua tidak ada yang selamat. Ombak makin kencang dan suasana makin tidak terkendali. Menurutnya saat itu banyak orang berlarian, terinjak dan muntah.
Menurut Vera, saat itu ada seorang pengurus kapal yang menghampiri mekanik agar segera membetulkan mesin itu seadanya dan kembali ke dermaga Pulau Tidung. Kapal akhirnya bisa kembali ke dermaga dengan kondisi air yang sudah masuk semata kaki.
"Kayaknya kalau 10 menit lagi kapal itu nggak dipaksa balik ke dermaga sudah dipastikan tenggelam. Tapi Alhamdulillah Allah masih sayang kita semua, kita masih ditemukan dengan orang baik. Orang pengurus kapalnya sampai berantem dengan petugas mekanik antara kapal diteruskan jalan ke arah pulang atau balik badan lagi ke dermaga. Akhirnya kapal putar balik ke dermaga sampai akhirnya kita selamat," kisahnya. Mereka kemudian dipindahkan ke kapal lain untuk kembali.
Vera mengatakan, KM Zahro Express yang terbakar adalah kapal yang sama dengan yang dia naiki Februari 2016 lalu. "Kirain saya kapal itu udah nggak dioperasiin lagi," ucapnya.
Dirjen Perhubungan Laut Antonius Tonny Budiono yang ditanya soal cerita ini mengaku belum mendapat informasi. "Belum ada info itu," ujar Tonny saat dikonfirmasi, Rabu (4/1/2017). (hri/fjp/metro)

Baca Juga Bertia Metro Terkait Lainnya